Generasi Sandwich dan Beban Ekonomi Keluarga Modern
GENERASI sandwich telah menjadi salah satu fenomena sosial-ekonomi yang semakin menonjol di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Istilah ini merujuk pada kelompok usia produktif yang harus menanggung kebutuhan ekonomi dua generasi sekaligus, yakni membiayai orang tua yang memasuki usia lanjut serta memenuhi kebutuhan anak dan keluarganya sendiri.
Di tengah meningkatnya biaya hidup, tekanan ekonomi kelas menengah, dan ketidakpastian pasar kerja, posisi generasi sandwich menjadi semakin rentan karena berada di persimpangan berbagai tuntutan finansial yang terus meningkat.
Fenomena ini tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan individual atau sekadar dinamika keluarga.
Generasi sandwich telah berkembang menjadi isu pembangunan yang memiliki implikasi luas terhadap konsumsi rumah tangga, kualitas hidup masyarakat, tingkat tabungan nasional, hingga mobilitas sosial antargenerasi.
Ketika kelompok usia produktif harus mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga lintas generasi, kemampuan mereka untuk menabung, berinvestasi, membeli rumah, maupun mempersiapkan dana pensiun menjadi semakin terbatas.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menciptakan siklus kerentanan ekonomi yang terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Istilah generasi sandwich pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller pada awal 1980-an untuk menggambarkan kelompok masyarakat yang “terjepit” di antara tanggung jawab merawat orang tua dan membesarkan anak-anak.
Apa yang dahulu dianggap sebagai fenomena yang terbatas kini telah menjadi realitas yang semakin umum di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Perubahan struktur demografi, meningkatnya angka harapan hidup, serta belum optimalnya perlindungan sosial bagi kelompok lanjut usia membuat beban ekonomi keluarga semakin bertumpu pada generasi produktif.
Di Indonesia, fenomena ini semakin relevan karena muncul pada saat yang sama dengan berbagai tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat.
Kenaikan biaya pendidikan, biaya kesehatan, harga perumahan, serta kebutuhan hidup di perkotaan yang terus meningkat membuat ruang keuangan keluarga semakin sempit.
Pada saat yang sama, banyak orang tua memasuki masa pensiun tanpa memiliki dana pensiun yang memadai, sehingga ketergantungan ekonomi pada anak menjadi semakin besar.
Kondisi tersebut menjadikan generasi sandwich sebagai salah satu wajah baru keluarga modern di Indonesia.
Mereka bukan hanya berperan sebagai pencari nafkah bagi keluarga inti, tetapi juga sebagai penopang ekonomi bagi keluarga besar.
Dalam banyak kasus, penghasilan yang diperoleh setiap bulan harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membayar cicilan, membiayai pendidikan anak, serta membantu memenuhi kebutuhan orang tua.
Fenomena generasi sandwich semakin berat karena terjadi bersamaan dengan tekanan yang dialami oleh kelas menengah di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kelas menengah di Indonesia mengalami tren penurunan.
Sumber : kompas.com

