Berburu Utang

PENGUMUMAN Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahwa dirinya akan terbang ke China dan Inggris untuk mempromosikan surat utang Indonesia menarik untuk dicermati.

Dalam bahasa teknokratis, agenda itu disebut sebagai upaya diversifikasi pembiayaan negara melalui penerbitan Panda Bond dan penjajakan investor global.

Namun, dalam bahasa yang lebih sederhana, publik dapat memaknainya sebagai upaya pemerintah “berburu utang”.

Purbaya menyatakan akan berangkat ke China pada 16 Juni 2026 untuk menawarkan obligasi berdenominasi yuan dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Inggris untuk bertemu investor Eropa (Kompas.com, 6 Juni 2026; ANTARA, 5 Juni 2026).

Mengapa Menteri Keuangan harus turun langsung menawarkan obligasi negara kepada investor asing?

Jawabannya dapat dilihat dari kondisi APBN. Hingga akhir Mei 2026, APBN mencatat defisit sebesar Rp 180,4 triliun, setara dengan 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit tersebut melonjak sekitar 763,2 persen (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 20,9 triliun (Kompas.com, 5 Juni 2026; Bisnis Indonesia, 5 Juni 2026).

Pendapatan negara baru mencapai Rp 1.185 triliun, sementara belanja negara sudah mencapai Rp 1.365 triliun, sehingga pemerintah membutuhkan pembiayaan untuk menutup selisih tersebut. (Kompas.com, 5 Juni 2026; Bisnis Indonesia, 5 Juni 2026).

Situasi tersebut menjadi semakin berat karena tahun 2026 merupakan periode dengan beban utang jatuh tempo terbesar dalam satu dekade.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Bloomberg Technoz dari Komisi XI DPR RI, total utang pemerintah yang jatuh tempo pada tahun 2026 mencapai Rp 833,96 triliun, naik dari Rp 800,33 triliun pada 2025 dan menjadi yang tertinggi hingga tahun 2036 (Bloomberg Technoz, Mei 2026).

Bahkan, profil tersebut sudah memasukkan kewajiban pembayaran SBN yang diterbitkan melalui skema Surat Keputusan Bersama (SKB) masa pandemi Covid-19 sebesar Rp 154,5 triliun yang jatuh tempo pada 2026.

Dalam praktik pengelolaan fiskal modern, menerbitkan utang baru untuk membayar utang lama memang dikenal sebagai refinancing atau roll over. Hampir semua negara melakukannya.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika pemerintah harus mencari utang baru di tengah biaya dana global yang sedang tinggi.

Dalam konteks inilah peribahasanya adalah “menggali lubang untuk menutup lubang”.

Sumber: kompas.com